Aiptu Yance Rangkul Petani di Selayar Bikin UMKM Kelapa Terpadu

Jakarta – Ps Kasium Polsek Polebunging sekaligus Binmas Desa Mare-mare, Aiptu Yance Raintung, merupakan polisi yang merintis wirausaha di bidang kopra. Dia merangkul warga yang sehari-hari sebagai petani kelapa untuk mengembangkan komoditas kopra di Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Sosoknya diusulkan sebagai kandidat Hoegeng Corner oleh Polda Sulsel. Aiptu Yance disebut memberdayakan warga di Kepulauan Selayar agar pengolahan pertanian kelapa semakin maju.

“Awalnya saya kan tergerak setelah saya dimutasi ke fungsi lantas (lalu lintas), jadi Kaurmin TU pada 2019. Saat itu kegiatan sudah tidak sepadat sebelumnya. Jadi saya mulai berpikir harus ada usaha ini yang tidak mengganggu kegiatan pokok saya sebagai polisi,” jelas Aiptu Yance kepada detikcom.

Dia lalu tertarik menjadi pemasok kopra setelah bertemu temannya, Zulfikar. Aiptu Yance dan Zulfikar pun sepakat menjadi rekan bisnis.

“Kebetulan Selayar ini komoditinya untuk kelapa besar, karena hampir 90 persen kelapa semua hasil taninya,” terang pria yang dilantik menjadi anggota Polri pada 23 Desember 2000 ini.

Dia teringat pada arahan pimpinan yang mengizinkan anggota Polri merintis UMKM asal mengganggu tugas kepolisian. Oleh sebab itu, Aiptu Yance merintis wirausaha dengan melibatkan masyarakat.

“Arahan dan kebijakan pimpinan, dalam hal ini Pak Kapolri (Jenderal Listyo Sigit Prabowo), untuk setiap anggota Polri dapat memanfaatkan dan memberdayakan masyarakat dalam mengembangkan usaha kecil di tempat tugas masing-masing,” kata Aiptu Yance.

Dengan uang Rp 10 juta, Aiptu Yance memberanikan diri memulai usahanya. Sampai di satu waktu Zulfikar memilih meninggalkan usaha kopra, dan Aiptu Yance tetap lanjut.

Dia melihat perkembangan penjualan kopra meningkat, namun terkendala jumlah oven (tempat membakar kopra) yang terbatas. Lalu memberanikan diri menanam kembali modal sebanyak Rp 20 juta hingga meminjam Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp 50 juta.

“Saya bikin oven untuk kopranya. Di sini kami pekerjakan 5-6 orang lah, karena masih kecil juga kan modal. Lalu saya tambah modal 20 juta. Kemudian saya liat 1 oven kapasitasnya hanya 2.000 sementara kelapanya lebih dari itu yang harus dioven, jadi kami pindah tempat ke Bungbakka,” imbuh alumnus Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua ini.


Aiptu Yance menyadari wirausaha tak selalu mulus. Pandemi COVID-19 yang melanda Tanah Air, berdampak pada harga kopra. Harga komoditas andalan Selayar itu turun dan menjadi tak stabil.

Bahkan Aiptu Yance sempat bingung kemana dia akan menjual kopra-kopra hasil olahannya yang menumpuk. Dia pun beralih memproduksi arang dari kelapa.

“Kalau sekarang kan sudah jatuh, sempat naik lagi, tidak stabil. Kemarin waktu saya usaha kopra, harga di Selayar masih Rp 12.500 per kg. Sekarang harga Surabaya baru Rp 9.700,” kata Aiptu Yance.

Kendala lainnya yakni kualitas kopra olahan yang dinilai pembeli kurang baik karena terlalu banyak terkena air hujan, sehingga kandungan airnya terlalu tinggi. Belum lagi, tambah dia, modal untuk pengolahan kopra yang diberikan pada sejumlah petani tak kunjung balik alias hilang.

Dia lalu beralih dari usaha kopra ke produksi arang. Alasannya, harga arang di pasaran lebih stabil, sehingga dia tak terlalu khawatir.

“Saya kan memulai usaha ini juga bersama warga, kalau tidak stabil pasti warga juga akan merasakan dampaknya. Arang itu harganya lebih stabil, dan masih sama komoditasnya kelapa,” tutur Aiptu Yance.

Kini UMKM kelapa terpadunya mampu memproduksi arang 75 ton per pekan. Kemudian, pihaknya mampu mengirim arang sebanyak 50 hingga 60 ton per pekan.

“Kalau usaha arang sekarang yang saya geluti, saya memodali petani untuk membeli tempurung dan menyediakan mereka drum untuk tempat pembakaran. Setelah dibakar, tempurung akan jadi arang,” jelas Aiptu Yance.

“Rata-rata petani saya yang ada 15 orang, bisa produksi masing-masing 5 ton per minggu. Jadi tiap minggu rata-rata bisa mengirim arang ke Surabaya sekitar 50 sampai dengan 60 ton per minggu,” tambah Aiptu Yance.

Pasar arang yang dibuat Aiptu Yance sekarang sudah sampai ke Jombang, Jawa Timur dan Ungaran, Jawa Tengah. Aiptu Yance bersyukur, kini petani kelapa dapat memproduksi kopra maupun arang berkali-kali lipat dibanding sebelumnya, sehingga pendapatan mereka pun bertambah

“Petani itu awalnya sebelum bergabung dengan saya, mereka masih usaha sendiri. Modal mereka terbatas jadi mereka hanya mungkin produksi 500 kg atau 1 ton per minggu. Kalau terjual 1 ton itu harganya kan Rp 4 juta, untungnya mereka sekitar Rp 700 per ton dari harga tempurung, kemudian diolah menjadi arang,” jelas Aiptu Yance.

“Setelah kami memberikan stimulus modal dengan menyediakan tempat yaitu drum sekitar 10 supaya produksi bisa maksimal, mereka dari awalnya 1 ton per minggu sekarang sekarang mereka bisa produksi 3 sampai 5 ton per minggu. Jadi kalau mereka awalnya keuntungannya hanya dapat Rp 500 sampai 700 ribu, sekarang mereka bisa sampai Rp 3 juta per minggu,” pungkas Aiptu Yance. https://ceretemas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*