Kecil-kecil Tua, Stasiun Solo Kota Warisan Belanda

Solo – Sebuah bangunan kecil di Solo jadi cagar budaya peninggalan Belanda. Lokasinya di Sangkrah, Pasar Kliwon, namanya Stasiun Sangkrah atau Stasiun Solo.
Kota Solo saat ini memiliki lima stasiun, yaitu Stasiun Purwosari, Stasiun Balapan, Stasiun Jebres, Stasiun Solo Kota, dan Stasiun Kadipiro yang baru berdiri sejak 2019. Di antara empat stasiun yang didirikan oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Stasiun Solo Kota adalah stasiun yang paling muda.

Hal itu dijelaskan Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni. Ia mengatakan, Stasiun Solo Kota diresmikan pada 1922, paling muda di antara 4 stasiun lawas lainnya.

“Dibangun paling akhir di antara beberapa stasiun kereta api lain di Kota Solo, yang lain dibangun sebelum abad 20. Yang di Sangkrah ini dibangun tahun 1919. 1922 itu kayaknya peresmiannya, tapi mulai pembangunannya 1919 atau 1920,” kata Dani saat dihubungi detikJateng, Kamis (23/11/2023).


Dani menjelaskan, pembangunan Stasiun Solo Kota ini dulunya digadang sebagai penunjang transportasi murah dan mudah untuk mengangkut berbagai hasil bumi. Stasiun ini dibangun perusahaan maskapai kereta api Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) agar kereta melewati pusat-pusat perdagangan dan transportasi.

“Program tahunan negara bagian selatan, yaitu daerah Wonogiri. Mobilitas penduduk di sana dipermudah untuk jalur perdagangan. Tapi sebetulnya kan di situ sebelum ada stasiun kereta api uap itu kan sudah ada trem kuda,” terangnya.

Trem kuda merupakan sarana transportasi yang berbentuk seperti gerbong kereta yang ditarik kuda. Menurut Dani, trem kuda ini dulu populer di era Hindia Belanda. Kemudian penamaan Solo Kota diambil karena letak stasiun yang berada di jantung Kota Solo, yang saat itu masih dalam kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pria yang kerap menelusuri sejarah melalui Solo Societeit itu mengatakan, jalur kereta di Stasiun Solo Kota ini dominan ke arah Wonogiri. Tapi dulunya sempat dibuka jalur Solo-Boyolali. Seiring perkembangan zaman, beberapa jalur banyak yang kemudian terputus karena ada pembangunan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri.

“Makanya sekarang kan hanya ada Kereta Bathara Kresna yang masih beroperasional,” ujar Dani.

Kereta Bathara Kresna melintas dari Purwosari menuju Wonogiri. Sesekali Stasiun Solo Kota juga melayani rute Sepur Kluthuk Jaladara yang akan membawa penumpang melewati Jalan Slamet Riyadi dengan kereta uap yang antik.

“Menarik karena keberadaannya ini bukan untuk mobilitas luar kota, jadi jarang orang yang tahu. Makanya lebih ke wisata heritage, berbeda dengan Stasiun Purwosari, Balapan, Jebres yang ada pengunjung luar kota,” jelasnya.

Sebagai salah satu cagar budaya di Kota Solo yang berada di wilayah PT KAI Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta, Stasiun Solo Kota masih mempertahankan keasliannya. Hanya beberapa ornamen yang diubah, seperti stasiun-stasiun lawas lainnya di Kota Solo.

“Itu dominan bangunan lama masih dipertahankan. Ada beberapa ornamen yang memang diubah karena kebutuhan zaman tentu saja,” tutur Dani.

Hal itu dibenarkan Manager Humas Daop 6 Jogja, Krisbiyantoro. Ia mengatakan, Stasiun Solo Kota termasuk ke dalam kategori bangunan heritage cagar budaya yang dilindungi, sehingga bangunannya masih asli dan masih dirawat untuk menjaga kelestariannya.

“Sampai saat ini kami mengatakan bangunan Stasiun Solo Kota itu masih asli, dan belum ada wacana untuk berubah karena harus dilindungi keasliannya. Bahkan sistem persinyalannya pun masih jadul, pakai mekanik, yang ditarik pakai tangan,” ungkapnya. https://kueceng.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*