Murka Gigolo Cabut Nyawa Seorang Gay di Kota Malang

Surabaya – Sebuah pesan pendek masuk ke handphone Sugeng sekitar pukul 21.00 WIB. Pesan itu dikirim oleh Roni Kristiono (30), pria yang dikenalnya melalui Facebook.
Dalam pesan pendeknya, Roni langsung terus terang lagi ingin dilayani Sugeng yang baru dikenalnya sekitar sebulan lalu. Roni lalu meminta alamat Sugeng.

Mendapat permintaan itu, Sugeng mengiyakan dan memberi alamatnya di Lowokwaru, Kota Malang. Tak lama, Roni lalu segera menjemputnya dengan mengendarai motor ke kos Sugeng.

Keduanya lalu menuju kos Roni di Jalan Ciliwung, Kedungkandang Kota Malang. Kedua pria itu langsung melakukan hubungan intim sejenis.

Puas dilayani, Roni mencegah Sugeng agar tidak cepat-cepat kembali ke kosnya. Sebab, ia masih ingin berhubungan intim lagi. Larangan Roni ini ternyata membuat murka Sugeng.

Sugeng tetap bersikeras minta diantarkan pulang oleh Roni. Sebab Sugeng telah 2 kali melayani hubungan seksual. Tapi permintaan itu rupanya tak dikabulkan.

Sambil tidur-tiduran, Roni meminta Sugeng untuk bersabar karena dirinya masih ingin melakukan hubungan seksual lagi. Saat itu lah, Sugeng melihat pisau dapur yang tergeletak di atas meja.

Spontan, ia langsung mengambil pisau dan menggoreskannya ke leher Roni. Mendapat serangan itu, Roni bangkit dan melakukan perlawanan ke Sugeng. Pisau yang masih digenggam Sugeng itu lantas ditikamkan ke dada Roni.

Roni pun ambruk tewas bersimbah darah. Mengetahui hal ini, Sugeng lantas mengambil barang-barang milik Roni. Seperti dua ponsel masing-masing merek Samsung dan Esia serta dompet berisi uang Rp 700 ribu. Sugeng lalu pulang dengan jalan kaki.

Sugeng sebenarnya bukan seorang homo seksual atau gay. Tapi ia rela melakukan hubungan seksual dengan Roni karena demi uang. Pekerjaan gigolo itu ia jalani karena faktor ekonomi.

Sugeng merupakan seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kota Malang. Sejak kecil, pria kelahiran 1991 itu sudah jadi anak yatim piatu dan tinggal di panti asuhan.

Awalnya, ia menjadi gigolo dengan masuk ke komunitas-komunitas gay di Kota Malang yang ada di Facebook. Dari sana pula, Sugeng lantas berkenalan dengan Roni dan mengetahui nomor teleponnya.

Saat dijemput Roni, Sugeng mau saja karena ia berharap imbalan uang. Meski sebelumnya tak ada perjanjian transaksi terlebih dahulu antara keduanya. Namun rupanya hal ini dimanfaatkan Roni untuk melakukan hubungan badan berulang-ulang sehingga membuat Sugeng murka.

Kasus pembunuhan pada Kamis, tanggal 1 Desember 2011 itu kemudian diketahui tetangga kos Roni. Ini setelah mayatnya bersimbah darah ditemukan. Polisi lalu melakukan olah TKP dan memeriksa saksi-saksi.

Saat peristiwa pembunuhan itu, salah seorang tetangga kos Roni mengaku sempat melihat seorang pria keluar dari kamar kos korban. Sedangkan dari olah TKP, diketahui dua buah ponsel dan dompet berisi STNK dan SIM milik Roni raib.

Melalui ponsel ini lah polisi kemudian melacak Sugeng. Belakangan diketahui ponsel telah dijual ke salah satu konter handphone. Berbekal dari kesaksian dan ciri-ciri pelaku, pada 7 Desember 2011 Sugeng ditangkap tanpa perlawanan.

“Kita tangkap kemarin malam di sebuah masjid wilayah Lowokwaru, Kota Malang,” kata Kapolres Malang Kota yang saat itu dijabat AKBP Teddy Minahasa seusai gelar perkara pada Kamis 8 Desember 2011.

Teddy menambahkan atas perbuatannya Sugeng dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan 365 KUHP tentang pencurian. Sugeng pun selanjutnya jadi pesakitan di Pengadilan Negeri Malang.

Selasa, 22 Mei 2012, majelis hakim Pengadilan Negeri Malang menjatuhkan vonis 10 tahun pidana penjara. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan sebelumnya yakni 15 tahun pidana penjara. https://elementlagu.com/wp/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*