Sosok Menyeramkan di AS Ini Akhirnya Tunduk, Dunia Bersorak

Jakarta, CNBC Indonesia – Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) mulai mengendurkan kebijakan agresifnya pada 2023 setelah mengerek suku bunga secara masif pada 2022. Menjelang akhir tahun ini, The Fed bahkan sudah mulai memberi sinyal pemangkasan suku bunga.

Sikap The Fed yang melunak dan mulai mengisyaratkan pemangkasan menjadi salah satu kabar paling membahagiakan bagi pasar keuangan dunia tahun ini. Pasalnya, pasar keuangan global akan selalu dalam tekanan setiap kali The Fed mengisyaratkan kenaikan suku bunga sepanjang 2022-2023.

Bagi Indonesia, kebijakan The Fed yang mulai dovish juga membuat banyak investor asing mulai melirik kembali pasar keuangan Tanah Air sehingga inflow melonjak dalam sebulan terakhir.

The Fed menaikkan suku bunga pada tahun ini sebanyak 100 bps dalam delapan pertemuan pada 2023. The Fed mengerek suku bunga dalam empat pertemuan dan sisanya menahan.
Langkah The Fed lebih lunak dibandingkan pada 2022, The Fed mengerek suku bunga 400 bps dalam delapan pertemuan pada 2022. The Fed bahkan mengerek suku bunga secara agresif sebanyak 75 bps dalam empat pertemuan beruntun pada 2022 yakni sepanjang Juni, Juli, September, dan November 2022.

The Fed mengerek suku bunga secara agresif setelah inflasi AS melambung ke level tertinggi 41 tahun pada Juni 2022 sebesar 9,1% (year on year/yoy). Inflasi masih tinggi pada Januari 2023 di posisi 6,4% yoy.

Angka tersebut masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan target The Fed sendiri yakni inflasi sebesar 2%. Alhasil, The Fed memutuskan untuk mengetatkan suku bunganya di sepanjang 2023.

Sepanjang tahun ini, suku bunga The Fed naik empat kali dengan total 100 basis poin (bps) dari 4,25-4,5% pada akhir 2022 menjadi 5,25-5,5% pada akhir 2023.

Perjalanan Keputusan The Fed Tahun ini: Hawkish Demi Tekan Inflasi

Februari, The Fed Pertama Kali Naikkan Suku Bunga 25 bps

Pada awal Februari, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 bps untuk pertama kalinya sejak Maret 2022. Hal ini membawanya ke kisaran target 4,5-4,75%, tertinggi sejak Oktober 2007.

The Fed menargetkan kenaikan suku bunga untuk menurunkan inflasi, meskipun ada tanda-tanda perlambatan, namun masih mendekati level tertinggi sejak awal tahun 1980an.

Dalam konferensi pers, Powell tetap mengingatkan jika The Fed tidak ragu untuk menaikkan suku bunga lebih banyak di masa depan.

Sebelumnya, pada Desember 2022, The Fed menaikkan suku bunga sebanyak 50 bps secara agresif untuk menekan inflasi yang mendidih akibat pecahnya perang Rusia dan Ukraina.

Dengan kenaikan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan Desember 2022, pelaku pasar menilai bahwa The Fed tampaknya mendekati akhir dari siklus kenaikan suku bunga ini (terminal rate).

Maret, Sembilan Kali Beruntun The Fed Naikkan Suku Bunga

The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps, menyatakan kehati-hatian terhadap krisis perbankan baru-baru ini dan mengindikasikan bahwa kenaikan tersebut akan segera berakhir.

Bersamaan dengan kenaikan suku bunga yang kesembilan sejak Maret 2022, Federal Open Meeting Committee (FOMC) yang menetapkan suku bunga mencatat bahwa kenaikan suku bunga di masa depan tidak dapat dipastikan dan akan sangat bergantung pada data yang masuk.

Komite juga masih mengantisipasi bahwa beberapa penguatan kebijakan tambahan mungkin diperlukan untuk mencapai kebijakan moneter yang cukup ketat untuk mengembalikan inflasi ke 2% dari waktu ke waktu.

Hal ini mengindikasikan bahwa The Fed masih akan cenderung untuk hawkish dalam beberapa waktu ke depan mengingat melandainya inflasi masih jauh dari target.

Ketua The Fed Jerome Powell pun menegaskan bahwa tahun 2023 bukanlah tahun untuk terjadinya pemangkasan suku bunga.

“Penurunan suku bunga tidak menjadi alasan kami” untuk sisa tahun 2023.” ujar Powell, dikutip dari CNBC International.

Mei, Genap 10 Kali The Fed Naikkan Suku Bunga dalam Satu Tahun

Suku bunga The Fed kembali naik ke kisaran 5-5,25%, tertinggi sejak Agustus 2007.

Dalam konferensi persnya, Powell menegaskan bahwa The Fed akan terus menaikkan suku bunga jika data ekonomi mengarahkan bank sentral ke arah tersebut.

“Kami siap berbuat lebih banyak jika diperlukan pembatasan kebijakan moneter yang lebih besar,” kata Powell.

Juni, Pertama Kalinya The Fed Tahan Suku Bunga Sejak Maret 2022

The Fed memutuskan menahan suku bunganya setelah selama 10 kali beruntun menaikkan suku bunganya secara signifikan.

Namun keputusan FOMC pada saat itu menunjukkan bahwa akan terdapat kenaikan suku bunga lagi di sisa tahun 2023.

Powell pun menegaskan bahwa tidak ada satu pun komite yang menuliskan penurunan suku bunga tahun ini, dan menurutnya hal itu mungkin tidak tepat jika dilakukan.

Juli, The Fed Naikkan Suku Bunga Untuk Terakhir Kali

Pada Juli 2023, The Fed menyetujui kenaikan suku bunga yang sangat dinanti-nantikan yang menjadikan biaya pinjaman acuan ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun.

The Fed menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps menjadi 5,25-5,5%. Titik tengah kisaran target tersebut menjadi level tertinggi untuk suku bunga acuan sejak awal tahun 2001.

Tingginya suku bunga The Fed tersebut menghasilkan inflasi AS yang jauh melambat sejak pertengahan tahun lalu namun belum mencapai target The Fed di level 2%.

Dilansir dari Reuters, inflasi Consumer Price Index (CPI) melandai dari 4% yoy pada Mei menjadi 3% yoy pada Juni.

September, Dolar Perkasa & Yield US Treasury Capai Puncaknya

Keputusan The Fed untuk menahan suku bunganya di level yang tinggi membuat indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mengalami apresiasi yang sangat signifikan.

DXY sejak 14 Juli 2023 berada di angka 99,91 sedangkan per 6 September 2023 tercatat berada di posisi 104,83 atau telah naik hampir 5% hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. Posisi DXY pun sempat menyentuh 107 yang merupakan posisi tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Suku bunga yang tinggi pun diikuti oleh imbal hasil US Treasury yang sempat melonjak ke atas 4,3% pada Kamis (17/8/2023) waktu setempat. Imbal hasil US Treasury berada di kisaran 5% atau merupakan posisi tertinggi sejak 2007.

Desember, The Fed Tahan Suku Bunga Tiga Kali Beruntun, Isyaratkan Pemangkasan

The Fed menahan suku bunganya pada FOMC September, November, dan Desember 2023. The Fed juga telah mengubah haluannya menjadi dovish yang tercermin dari dokumen ‘dot plot’ yang telah dirilis bulan Desember.

Powell dalam konferensi persnya mengatakan bahwa inflasi telah melandai sesuai keinginan The Fed. Namun, dia mengingatkan jika inflasi masih tinggi. Dia mengingatkan jika upaya menurunkan inflasi ke target mereka yakni 2% bisa berubah dan masih belum pasti.

“Inflasi sudah melandai dari titik puncaknya tetapi tidak disertai dengan kenaikan signifikan pengangguran Ini adalah kabar yang sangat baik. Namun, inflasi masih terlalu tinggi,” tutur Powell.

Dalam dokumen ‘dot plot’, anggota komite memperkirakan setidaknya tiga kali penurunan suku bunga pada tahun 2024.

Sebanyak delapan anggota memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga setidaknya 75 bps pada tahun depan sementara lima lainnya memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih dari 75 bps. Median ekspektasi suku bunga ada di angka 4,6% dalam dot plot terbaru, turun dibandingkan 5,1% pada proyeksi September.

CMEFoto: Assesment of FOMC Participant
Sumber: Dokumen Dot Plot The Fed

Dampak Sikap The Fed Dovish terhadap Indonesia

Sikap The Fed yang menahan suku bunganya berdampak baik bagi pasar keuangan Tanah Air. Hal ini tercermin dari aliran dana asing yang deras masuk ke emerging market khususnya Indonesia.

BI merilis data transaksi 18 – 21 Desember 2023, investor asing di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp6,37 triliun terdiri dari jual neto Rp0,12 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), beli neto Rp1,52 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp4,97 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Foreign inflow yang terjadi sejak pekan ketiga November ini terjadi secara beruntun dengan total lebih dari Rp40 triliun net buy dan lebih dari Rp25 triliun di SRBI.
Secara keseluruhan, selama 2023, berdasarkan data setelmen s.d. 21 Desember 2023, asing tercatat melakukan beli neto Rp81,40 triliun di pasar SBN, jual neto Rp11,61 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp52,81 triliun di SRBI. https://asiafyas.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*